Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2007

Secara umum orang-orang tau fotografi pada posisi sebagai obyek yang difoto. Seperti halnya ingatan gua pertama kali ketika mulai benar-benar paham bahwa gua harus berpakaian rapih, bergaya tertentu (eksyen, kalau orang jawa bilang), menghadap ke kamera dan menahan mata supaya ga berkedip ketika si tukang foto udah berteriak menyebutkan “TIGA !…”.

Inilah interaksi gua secara sadar untuk pertama kali dengan kegiatan bernama fotografi. Dan butuh bertahun-tahun bagi gua untuk terangsang berpikir sebagai gua di posisi si tukang foto.. at least.. baru pada saat gua di SMP. Selama itu sebelumnya yang terpikir cuma suatu tombol di kamera yang ditekan oleh tukang foto, pulang, menunggu satu minggu untuk ngambil negatif film dan hasil cetaknya. Jadi, elemen fotografi yang gua ketahui saat itu adalah Manusia, Kamera dengan Film dan Cuci-Cetak.

Potret-memotret 10 tahun lebih yang lalu adalah kegiatan eksklusif, butuh biaya yang ga sedikit untuk film yang menghasilkan 36 gambar untuk 1 roll, belum termasuk ongkos cetaknya. Satu peristiwa pernikahan adat jawa kakak terbesarku saja dulu kuhitung-hitung hanya dihasilkan oleh 4 roll film berisi 36 negatif, 1 roll untuk midodareni, 1 roll untuk siraman, 2 roll untuk pesta pernikahannya. Karena keterbatasan ini, memilih fotografer (–baca: tukang foto–) yang handal adalah suatu yang pasti.

Mungkin juga karena keterbatasan inilah kenapa ketika hendak berfoto semua orang cenderung harus bergaya, apalagi kalau foto studio dengan layar-layar background yang kaku, seringkali menjadikan foto terlihat ga natural dan lebih kuat terkesan artificial, walau tak dipungkiri dalam black-white foto dengan style seperti ini sangat kuat dalam mencirikan kelampauan/kekunoan. Keterbatasan ini juga menyebabkan foto jenis candid, dimana obyek difoto secara ‘diam-diam’ tanpa menyadari dirinya sebagai obyek dan sang fotografer memiliki kebebasan menyusun cerita melalui media foto-foto yang dihasilkan, baru marak di akhir dekade 90-an, dimana style foto jurnalisme diadopsi untuk kepentingan peristiwa dan acara personal. Dan kenapa di penghujung 90-an konsep ini laris dan mulai berkembang ? Jawabannya satu karena terjadi revolusi budaya fotografi sejak diperkenalkannya teknologi yang disebut kamera digital. Dan saat itulah elemen yang kukenal dalam fotografi bergeser menjadi Manusia, Kamera Digital, dan Komputer dengan Printer.

Pergeseran konsep teknologi ini terjadi dengan fundamental yang cukup sederhana, mengubah teknik penangkapan cahaya dari yang secara kimiawi menjadi digital,.. negatif film menjadi chip sensor elektronik. Tapi efeknya sangat besar, secara kasat mata sebagai contoh adalah style dalam fotografi, kapasitas produksi fotografi, berbagai jenis kamera dengan biaya operasional yang lebih rendah dan sebagainya. Bagi gua, inilah satu titik dimana gua mulai sangat tertarik untuk memposisikan diri sebagai tukang foto dan bukan obyek foto (alasan yang lebih besar sih karena gua ga cukup pe-dhe untuk difoto :P). Keingintahuan tentang bagaimana detail dari setiap elemen fotografi (di dalam pengertian gua itu) mulai menarik dan ‘menjerat’ gua untuk memulai eksplorasi baru di berkegiatan fotografi amatiran.

Binatang apa Kamera itu ?

Sedikit latar belakang, kenapa gua butuh tau tentang kamera : ibarat manusia dan sepeda, hanya butuh kesesuain antara keseimbangan tubuh dan teknik genjot (yang diperoleh dari latihan) setiap orang bisa menaiki dan menjalankan sepeda. Tapi untuk bisa mengendarai sepeda, orang harus tahu jika naik sepeda dengan kecepatan tinggi dan ingin menghentikannya ga mungkin dengan menekan rem depan saja (kecuali mau akrobatik). Hal yang sama dengan kamera, setiap orang bisa menekan tombolnya tapi untuk menghasilkan gambar yang diinginkan .. “ga cukup dengan menekan rem depan saja”. Untung di dunia digital saat ini, berbagai program automatis tersedia, dan di dunia foto digital kegatahuan ga menyebabkan kecelakaan bagaikan di dunia naik sepeda, dan di dunia foto digital ongkos kesalahan dapat dieliminasi jika dibandingkan dengan zaman foto analog yang memakai negatif film.

Trus, apa pertanyaan : “Perlukah tau tentang apa itu kamera” masih relevan ? Menurut gua jawabannya adalah YA, YES, YUP, YOI dll, pada saat gua ingin kamera bekerja untuk gua agar menghasilkan gambar-gambar yang gua inginkan. Seperti udah disinggung di Bahan I : Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya. Bagaimana cahaya ditangkap di sebuah kamera ? Lihat skema berikut ini

(Courtesy of Bush, David D; Mastering Digital Photography, 2003)

Cahaya masuk ke kamera lewat lensa (obyek dapat diliat terlebih dahulu lewat viewfinder), difokuskan agar diterima oleh sensor cahaya yang memilah-milah cahaya berdasarkan komponennya, informasi mengenai konsentrasi komponen cahaya ini diterjemahkan dan diubah menjadi informasi digital untuk kemudian disimpan dalam media penyimpan.

Selanjutnya, mari kita liat dua elemen utama proses penangkapan cahaya itu hingga menghasilkan gambar

Lensa

Cahaya masuk ke dalam kamera melalui bagian yang disebut lensa. Cahaya dipastikan hanya boleh melalui bagian lensa ini yang berupa lubang (berbentuk lingkaran). Lubang ini ibarat jendela kamera ke dunia luar, dan jendela ini punya ukuran lubang tertentu, persis saat kita membelalakkan mata atau menyipitkan mata. Kamera sendiri juga memiliki komponen untuk mengatur kecepatan si lubang ini membuka pas kita perintahkan. Dengan mengatur dua properties ini, intensitas cahaya yang masuk ke kamera diatur.

Lensa juga berfungsi untuk mengatur supaya cahaya secara tajam difokuskan. Apa sih sebenarnya fokus ? Secara sederhana, fokus adalah saat kita bisa melihat obyek pada visualisasi yang terjelasnya, kebalikan dengan yang disebut blur. Kalau menyangkut cara kerja, fokus adalah saat cahaya yang dilewatkan tepat jatuh ke bidang sensor kamera, seperti setelah cahaya lewat kornea mata kita dan tepat jatuh di retina maka kita bisa fokus melihat suatu obyek. Tentang konsep gimana cahaya dari obyek diproyeksikan oleh lensa dan hitungan-hitungannya, gua udah lupa.. silahkan buka lagi pelajaran dasar di SMP, SMA dan orang-orang Teknik Fisika yang bermain tentang optik (Boss Hardy kali nih..lebih jago).

Lensa juga penanda paling mendasar untuk membedakan jenis kamera digital point & shoot dengan kamera digital SLR. Jenis kamera pertama memiliki lensa dengan ukuran yang sudah tetap ( dan ga bisa diubah-ubah, kecuali beli kamera baru yang berbeda jenis lensa), jadi lebih simple karena pengguna ga perlu lagi mengatur fokus dengan mengatur posisi elemen lensa ini, posisi fokus lensa sudah fix. Sebaliknya, di kamera DSLR, berbagai jenis lensa dapat dipasang (asal mountingnya bersesuaian, biasanya dedicated sesuai merk), dan lebih diperlukan upaya untuk mengatur posisi lensa untuk memperoleh fokus yang diinginkan (walaupun ada fasilitas auto focus juga).

Besaran yang membedakan (jarak fokus) suatu lensa disebut dengan Focal Length dengan satuan mm (mili meter). Berdasarkan focal length, lensa dapat dibedakan menjadi dua grup besar, yakni lensa Prime dan Lenza Zoom, bedanya yang pertama ini punya focal length yang fix ga berubah-ubah, sedangkan yang kedua punya focal length berupa rentang. Masing-masing punya kelemahan dan keunggulan :

  • Kalo pake Lensa Prime : Kualitas hasil lebih bagus (karena tipe ini dibuat khusus untuk focal length tertentu), lebih tajam dan respon yang cepat. Tapi kurang sesuai kalo kita menghadapi situasi memotret obyek pada berbagai rentang focal length.
  • Kalo pake Lensa Zoom : Praktis, cukup satu lensa untuk berbagai keperluan focal length (ga berat bawanya). Kelemahan, lebih lamban dalam respon karena punya minimum aperture yang lebih rendah (dibanding jenis prime), jadi lebih susah dalam ngatur focus dan kestabilan (terutama untuk penderita tremor kaya gua)

Jenis-jenis focal length yang gua ketahui :

  • Standard : 50mm. Kalau beli kamera SLR sepaket pasti dikasih.Cocok untuk keperluan general (mirip sama sudut/angle mata manusia).
  • Small Zoom : 35-70mm (2x zoom), 28-85mm (3x zoom) atau 24-105mm (4x zoom), dll. Kamera digital pocket biasanya pake jenis yang ini dengan rentang umumnya 35-100mm (tapi ini berubah dengan cepat, dan semakin hebat fitur lensanya).
  • Wide Angle : < 50mm. Cocok untuk memotret panorama dan landscape outdoor lainnya, memotret orang banyak yang berjejer-jejer (foto bersama 40 orang misalnya) dan situasi dimana perspektif yang kuat ingin dihasilkan, intinya untuk dapat menangkap obyek yang lebih lebar. Pada beberapa aplikasi kadang terjadi distorsi perspektif.
  • Fisheye : 7- 16mm. Lensa ini kaya mata ikan yang mampu menghasilkan pandangan 180°.
  • Super Wideangle : <24mm. Seperti lensa wide angle tapi lebih lebar lagi, Cuma ga selebar lensa fish eye. Biasanya buat foto gedung, rumah real estate (biar tampak lebih gede dari aslinya)
  • Medium Telephoto : 85-135mm. Cocok untuk menghasilkan potret, karena bisa mengisolasi obyek wajah (misalnya) dari backgroundnya, dan ga distortif (hasilnya lebih datar dan natural). Umumnya ini yang dipake buat candid.
  • Long Telephoto : > 135mm. Umum dipake sama wartawan olahraga atau dokumenter, intinya untuk menangkap aksi (misalnya saat Cak Roni menggiring bola di lapangan Nardo) secara dekat tetapi tukang fotonya tidak memungkinkan dekat secara fisik.
  • Super Telephoto : >300mm. Super tele lah pokoknya, bisa untuk ngambil lebih jauh lagi. Yang jelas berat, dan butuh tripod khusus untuk lensanya (atau tangan lu cukup sering fitness dan angkat barbel 40 kg). Ini jenis kamera yang wajib dimiliki paparazzi.
  • Macro : 35 mm. Jenis lensa ini bisa untuk dapat fokus secara dekat dari obyek dengan image ratio 1:1, contoh : obyek sebesar 10mm akan dihasilakn sebesar 10mm juga. Intinya untuk memperoleh gambar obyek yang besar dengan jarak dekat, misal ulat yang lagi makan daun.
  • Jenis-jenis lain yang lebih spesifik dan aneh-aneh.

Sensor

Setelah cahaya dilewatkan lensa, lalu cahaya diterima oleh sensor elektronik sensitif cahaya terbuat dari bahan semi konduktor yang berbentuk kotak-kotak, kaya solar cell (sepertinya mah). Foton dari cahaya yang kena ke setiap cel sensor menyebabkan cel ini menghasilkan elektron, jadi kalo semakin banyak foton yang diterima (intensitas cahaya makin besar) makin banyak elektron yang dihasilkan dan akibatnya makin terang lah gambar hasil nantinya.

Kesensitifitasan dari sensor ini yang kita kenal dengan ISO, yang berkorelasi dengan jumlah minimum foton yang diperlukan sensor untuk menangkap gambar. Semakin besar ISO yang dipilih berarti menurunkan setting minimum foton untuk ukuran pixel tertentu, akibatnya pada ISO yang tinggi gampang terjadi noise (berupa bintik-bintik di gambar) karena sensor merekam juga gangguan-gangguan (yang bukan informasi gambar) lain.

Di dalam kamera digital ada dua jenis tipe sensor yang umum satu disebut CMOS, complementary metal oxide semiconductor, (teknologi lebih tua, tapi terus berkembangsampai sekarang) , satunya lagi adalah CCD, charge coupled device. Beda dari kedua jenis ini adalah CMOS kurang sensitif terhadap cahaya dan mudah kena noise, tetapi butuh daya yang lebih rendah dan lebih murah dibanding CCD. Sensor ini juga dilengkapi komponen untuk mengkonversi signal analog menjadi informasi digital untuk disimpan.

Nah selesailah mekanisme kerja dari kamera, elemen-elemen yang ada di dalam kamera digital pada intinya mendukung proses kerja dua elemen utama dari Kamera Digital.

Format Gambar

Begitu dihasilkan signal digital, maka selanjutnya diperlukan media penyimpan berupa memory card. Yang umum dijumpai adalah CF (compact flash), SD (secure digital) atau Mini/Micro SD card, dan MMC (Multi Media Card). Tidak ada perbedaan yang cukup berarti diantara tipe-tipe media penyimpan ini selain ukuran fisiknya.

Yang lebih penting adalah memahami format gambar yang ingin disimpan dari kamera digital. Ada 3 jenis format gambar yang umum dijumpai dalam seting kamera digital, yaitu JPEG, RAW dan TIFF. Ketiganya mensupport tipe pewarnaan CMYK (karakterisasi matematis warna gambar dilakukan berbasis warna Cyan Magenta Yellow Black, jenis ini hanya digunakan umumnya dalam design grafik), RGB (karakterisasi matematis terhadap warna gambar dilakukan berbasis warna Red Green Blue, umum dijumpai) dan LAB/CIELAB (berbeda dengan 2 tipe sebelumnya, karakterisasi warna ini didasarkan atas model persepsi human vision contrast melalui korelasi spectrum warna, bahasan terlalu canggih kurang ngerti juga dalemnya :P)

Apa yang membedakan satu sama lain ? Pada intinya perbedaan berbagai jenis format file tersebut didasarkan atas pertimbangan kapasitas penyimpanan dan informasi gambar yang hendak disimpan.

File bertipe JPEG paling efisien dalam hal space, dan dapat disimpan dalam berbagai level kualitas tergantung dari besar kompresi yang diinginkan. Semakin dikompres semakin banyak informasi original dari gambar akan hilang, akan tetapi, semakin kecil ukuran file yang dihasilkan. File bertipe TIFF memiliki keunggulan meskipun gambar dikompres tidak ada informasi gambar yang dikorbankan, tetapi tentu saja membutuhkan space yang lebih besar jika dibanding JPEG. Bagaimanapun, perlu diinget baik JPEG maupun TIFF, keduanya adalah file gambar hasil dari perangkat lunak dalam kamera, oleh karena itu seoriginal apapun TIFF dan JPEG keduanya tidak benar-benar mengandung informasi asli dari gambar.

File tipe ketiga yaitu RAW inilah yang bekerja seperti negatif film, di mana di dalamnya seluruh informasi gambar terjaga dengan baik dalam channel 12-bit atau 16-bit (tergantung kamera), tanpa kompresi, tanpa manipulasi setting software dalam kamera. Hanya satu kelemahan, diperlukan software khusus (misal adobe photoshop) untuk membaca format ini. Pertimbangan praktis yang dapat dipakai sebagai acuan adalah, untuk sebagian besar pengguna, secara general, format JPEG atau TIFF sudah cukup baik, untuk kebutuhan spesifik (dan ditunjang media penyimpan yang besar) seperti keperluan editing dll, format RAW adalah pilihan yang lebih tepat.

Referensi :

  1. Bush, David D; Mastering Digital Photography; Muska and Lipman, 2003
  2. Hartley, Danny; Photography – The Lens; Picture Correct, 2007

SAMPAI JUMPA LAGI !!!

(KAMERA JANGAN DISIMPAN AJA, BIASAKAN JEPRAT JEPRET, TOH BISA DIHAPUS KALO GA BAGUS …. DARIPADA KARATAN :P)

 

 

-gandoel-

Read Full Post »

Gua memulai belajar fotografi belum ada satu tahun. Pada dasarnya, gua yakin di jaman modern ini tidak ada orang yang tidak mengenal fotografi. Secara umum fotografi bisa dimaknai sebagai kegiatan memotret-motret dan berbagai aspek berkaitan dalam persiapan dan penerapannya. Banyak hal tentang fotografi yang biasa ditemui, mulai dari gambar rekaman personal/non-komersial, ilmu pengetahuan (visual experiment), kegiatan jurnalisme hingga media promo untuk kepentingan komersial. Dalam terminologi ilmiah, fotografi secara klasik dimaknai sebagai kegiatan merekam gambar pada media yang dapat menangkap cahaya baik secara kimiawi (film analog) maupun melalui sensor elektronik (digital). Media ini kemudian diterjemahkan dan disimpan sebagai gambar visual secara fisik (cetak dari negative film) atau elektronik (image file). Proses ini melibatkan penggunaan peralatan yang dikenal dengan nama kamera. Ketika aspek dari proses kreatif bersentuhan dalam fotografi maka fotografi semakin bisa dimaknai secara luas dan mulailah fotografi sebagai salah satu genre seni visual dikenal (..hal ini masih diperdebatkan di kalangan pelaku fotografer Indonesia). Aspek kreatif melibatkan berbagai ide, teknik tertentu dalam pencahayaan, pemilihan obyek, editing dan lain sebagainya.  

Betapa menyenangkannya fotografi itu 

Mengesampingkan seluruh pengertian serius tentang fotografi, tak beda dengan kegiatan lain yang dapat menjadi kegemaran yang disukai dalam hidup manusia fotografi adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Beribu alasan dapat gua (dan elu) berikan dan hal ini tak terbantahkan. Sangat mudah dan jelas menghabiskan banyak halaman kalau mau nulis alasan menyenangkan tentang fotografi, so gua pikir ga perlu dilakukan disini. Lebih baik untuk membahas mitos-mitos mengenai fotografi : 

Fotografi itu mahal

Mitos ini mengidentikkan fotografi yang indah selalu memiliki relasi positif dengan jenis kamera dengan kemampuan yang semakin canggih. Sepenuhnya hal ini adalah mitos, fotografi dapat dilakukan dengan biaya yang relatif murah. Alat yang semakin mahal memberikan keleluasaan dalam melakukan eksplorasi fotografi, tetapi tentu saja tidak semua orang ingin menjadi fotografer professional. So, yang menjadi kunci adalah memahami keinginan kita dalam fotografi dan bagaimana cara mengoptimalkan keterbasan dari peralatan fotografi yang kita miliki. Ada grup di flickr (yang gua ikuti juga) yang menyimpan koleksi-koleksi hasil jepretan kamera digital pocket (istilahnya point & shoot camera) Link : http://www.flickr.com/groups/pointshoot/ Udah diliat ?… ga kalah kan… beberapa malah geloooo bahkan. 

Fotografi itu susah

Menghasilkan rekaman gambar panorama pemandangan yang breath taking, potret ekspresif yang heart stirring,  flora dan fauna yang indah, langit yang dramatis, night scene dan sebagainya tidak selalu membutuhkan teknik-teknik yang sulit. Bahkan dengan berbagai fasilitas dalam kamera digital saat ini berbagai setting pengambilan gambar telah tersedia secara otomatis dan sangat mudah diakses. The Key of Success dalam mengambil gambar terletak dalam :

  • Memahami keinginan kita terhadap obyek yang ingin difoto
  • Mengetahui cara mewujudkan keinginan tersebut melalui :         Memahami peralatan dan fungsi-fungsinya & Memahami konsep-konsep dasar dan teknik pengambilan foto 

Apa yang dibutuhkan dalam fotografi 

Untuk memulai fotografi beberapa modal memang dibutuhkan antara lain :

  1. Motivasi dan Niat : Jika kita menyukai untuk merekam suatu peristiwa dalam media gambar motivasi dasar untuk memulai menyukai fotografi sudah ada. Dan jika motivasi tersebut ditunjang dengan niat untuk mengetahui seluk beluk bagaimana menghasilkan rekaman gambar yang baik maka modal dasar sudah terpenuhi dan berarti sudah siap untuk memulai belajar fotografi. 

  2. Ide kreatif : Di dalam fotografi, ide kreatif sangat diperlukan untuk memperoleh representasi gambar yang khas, unik dan cantik. Ide kreatif bisa berbeda-beda antar satu orang dengan orang lain. 

  3. Tools : Peralatan utama dalam fotografi tentu saja adalah kamera. Berbagai jenis kamera digital dapat dikelompokkan secara garis besar sebagai :

  • Kamera SLR (Single Lens Reflect) : Ini kamera jenis what u see is what u get alias apa yang kita liat dari lubang penoong kamera (view finder) adalah refleksi nyata dari obyek yang akan kita ambil (tanpa melalui manipulasi apapun). Ciri-ciri umum : Lensa bisa diganti-ganti sesuai dengan jenis masing-masing à Kemampuan zooming ditentukan dari tipe lensa yang digunakan, Pengaturan exposure dapat dilakukan secara manual dengan fasilitas pengaturan kecepatan jepret (shutter) dan bukaan aperture (jendela cahaya/diafragma), mampu menghasilkan image dalam format .raw, dan dengan resolusi yang besar 
  • Kamera Digital Point and Shoot (Pocket) : Tipe kamera umum yang sering digunakan oleh orang-orang karena kemudahannya.Ciri-ciri umum : Lensa dan badan kamera dalam satu paket, Memiliki dua tipe zooming : optical (oleh lensa) dan digital (oleh software dalam kamera. Zoom total sama dengan rasio zoom optical dikalikan rasio zoom digital, Pengaturan exposure (kuantitas cahaya yang diterima) biasanya dalam bentuk program, misalnya program untuk memfoto siang hari, night scene, sport dll. Hal ini agar mudah digunakan oleh user.

Hal utama yang membedakan dalam konteks belajar fotografi adalah kamera tipe SLR memberikan keleluasaan dalam melakukan eksplorasi fotografi. Prinsip cara kerja alat untuk kedua tipe pada dasarnya adalah sama.Selain kamera, peralatan penunjang fotografi lainnya antara lain adalah tripod/monopod, media penyimpan file (CF, SD/Mini-SD Card), software editing dsb. Dari ketiga modal diatas, modal ketiga adalah modal yang tidak lebih penting dibanding yang lainnya.   

Peralatan dan Recent Issues 

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, peralatan utama dalam fotografi adalah kamera. Pengalaman gua dalam memilih kamera, didasari dengan pertimbangan mutlak yaitu menyesuaikan antara kebutuhan kita sendiri, fasilitas teknis yang ditawarkan dari produk kamera, dan budget. Mari kita bahas satu-satu : 

  • Memahami kebutuhan akan kamera : Lakukan pertimbangan dengan bertanya pada diri sendiri  “Sejauh mana keinginan kita dengan kamera yang akan kita beli ?”   

Jika jawabnya adalah pengen mencoba dan belajar segala hal mengenai fotografi dan ingin segera melakukannya maka belilah kamera digital SLR. Gua membagi kelas jenis kamera ini menjadi dua, satu adalah DSLR kelas menengah (biasa) dengan kelas atas (profesional consumer)

Jika jawabnya adalah pengen mencoba fotografi, tetapi ingin liat-liat dulu maka belilah kamera digital (pocket) dengan fasilitas yang mendekati kamera DSLR, misalnya melihat tipe kamera yang memiliki opsi pengambilan gambar secara manual (mampu mengatur shutter, aperture dll) Ex : Panasonis Lumix DMC FZ50K, Sony Cybershoot DSC H7, Canon Power Shoot G7/9 atau S5 IS

Jika jawabnya adalah memanfaatkan kamera untuk merekam moment hidup sehari-hari, traveling dsb yang bersifat general. Pilih saja kamera digital pocket biasa.

Jika tidak bisa menjawab berarti jangan beli kamera, jangan-jangan yang dibutuhkan adalah kalkulator.

  • Guideline dalam memilih kamera digital (pocket) : 

Resolusi gambar : Resolusi gambar secara umum dinyatakan dalam satuan Mega Pixel, yang menyatakan kuantitas maksimum pixel untuk setiap image yang dihasilkan dari kamera. Penerapannya adalah semakin besar pixel semakin besar ukuran gambar yang mampu dicetak pada kualitas optimal.Jadi belum tentu kita membutuhkan kamera dengan mega pixel yang besar.  Sebagai contoh, hubungan antara mega pixel dan ukuran gambar guideline :Image dengan ukuran 3888 x 2592 pixel = 10Mpixels mampu dicetak maksimal dengan resolusi optimum pada ukuran 54 inch x 36 inch (137cm x 92 cm) dengan resolusi 72 pixel/inch.  

Zoom : Seperti yang sudah disinggung tadi ada dua jenis zoom dalam kamera digital pocket (tidak berlaku untuk kamera DSLR). Produsen biasanya mengiklankan kameranya dalam bentuk zoom total, jadi hati-hati. Zoom Optical adalah tipe zoom yang murni oleh lensa kamera, sedangkan zoom digital adalah tipe zoom yang dilakukan dengan memanipulasi gambar dengan software di dalam kamera dan zoom digital akan mengorbankan resolusi dari gambar (menurunkan resolusi). Sebisa mungkin hindari penggunaan zoom digital. Jadi pilih kamera yang memberikan optical zoom yang sebesar mungkin. 

ISO : ISO adalah satuan kesensitivan sensor (film) kamera terhadap intensitas foton/cahaya. Pengaturan ISO seringkali diperlukan sesuai kondisi cahaya yang tersedia. Oleh karena itu kamera dengan opsi pengaturan berbagai harga ISO diutamakan dalam memilih kamera. Besar pilihan ISO yang umum dalam kamera digital saat ini dari 100 hingga 1600. 

Lensa : Lensa berfungsi bagaikan kornea dari mata kita. Oleh karena itu memilih kamera dengan lensa yang baik tentu saja menjadi pertimbangan yang baik pula. Leica dan Carl Zeiss adalah dua merk terkenal dalam dunia optik kamera yang layak dipertimbangkan. 

Baterai : Pilih kamera dengan baterai Li-on (lithium ion) yang sangat praktis dan tahan lama (baik waktu operasional maupun umur pakai) dibanding jenis baterai lainnya pada saat ini. Baterai jenis ini juga biasanya disertai charger yang memudahkan pengisian kembali arus listrik ke dalam baterai.

Media penyimpan file : Pertimbangkan jumlah gambar yang ingin lu ambil dalam satu kali penyimpanan. Media penyimpan 2GB mampu menyimpan file gambar hingga sekitar 500 untuk kamera 10 Mega pixels. 

Fitur dan Kemudahan operasi Pertimbangkan fitur-fitur lain yang menarik, seperti jenis-jenis program pengambilan foto, pengaturan saturasi/white balance/dll, support software. Pertimbangkan kemudahan pengoperasiannya. 

Service point : Jangan lupa hal lain yang perlu dilirik yaitu dukungan service purna jual dan garansi. 

  • Budget : Pilih kamera yag paling optimal dengan budget yang tersedia

Inget bukan alat elu yang menentukan bagus enggaknya hasil jepretan tapi manusia yang ngejepretnya.

Survey Produk Kamera 

Rangking berdasarkan berbagai info, pendapat teman dan pengalaman pribadi, inilah beberapa kamera digital pocket unggulan versi gua 

  1. Panasonic Lumix DMC FZ50K (punya Erri, video cam profesional) :  Kualitas oke banget, terutama lensanya oke banget Leica 12x optical zoom, Harga 5jt-an
  2. Canon Power Shoot G7 (punya Mas Miki, Dept TK ITB) : Kualitas oke, Harga 4 jtan (lebih murah) 
  3. Leica V-Lux 1(punya Olle Melhus, professor NTNU) : Kualitas oke banget, Harga pas beli 5900an kroner (8-9 jtan, gileee mending Canon 400D) 
  4. Sony Cyber-shot DSC-H7 (liat brosur) : Kualitas oke, harga 3.5-4 jtan 

Review yang sering gua liat : http://www.digitalcamerainfo.com/ratings.php ; http://www.livingroom.org.au/photolog/news/digital_photography_survey_results.php  

Kontak Toko buat cari kamera 

Internasional : B&H di NY USA, tapi bisa kirim internasional http://www.bhphotovideo.com 

Di Indonesia : 

Bandung– Jonas Photo à Jl.Banda 

Jakarta : JPC Kemang http://www.jpckemang.com; Toko di ITC Fatmawati (inget tempatnya lupa namanya) à Namanya CamZone (thanks to Nicky si Pendekar Sadis yang mau beli Nikon D40) http://tokocamzone.com/

Singapura : Bargain City à Electronic Shoping http://www.bargaincity.com.sg/oshop/index.php?cPath=17&osCsid=75c297c967ca873e8f8071b2f7229df3 

Di Trondheim :

Japan Photo (favorit paling murah se dunia trondheim) http://www.japanphoto.no 

Foto Schroder (mafia fotografi norway 😛 ) http://www.fotoschroder.no

(Spesial thanks buat Akhyar Fikri, Rahayu Urani, Natan, dan barudak Rumah Photo cihapit bandung… I found another interesting world in photography)

Read Full Post »

Tips Motret No 2

Jika melihat obyek yang mau difoto, sebisa mungkin bayangkan hasil yang mau kita harapkan… bagi gua hal ini sangat membantu untuk menentukan komposisi, angle, seting lensa dan seting kamera lainnya

Read Full Post »

Tips Motret No 1

JANGAN MOTRET BERHADAPAN LANGSUNG KE ARAH CAHAYA (i.e SINAR MATAHARI) KECUALI SENGAJA MAU NGEJAR SILUET

Read Full Post »