Salah satu memanfaatkan layanan publik dan mengoptimalkan bayar pajak yang sangat besar (at least bagi gua !) di Norway adalah dengan menjadi anggota Perpustakaan Kota. Disini layanan pinjam buku, film (dvd/cd) dan cd musik tersedia. Di trondheim, pusat perpustakaan ini ada di jalan Peter Egges di Sentrum dekat Kongensgate. Selain itu di daerah moholt (dekat kuburan) ada juga layanan cabang perpustakaan ini.
Untuk menjadi anggota sangat gampang dan GRATIS !!!, syaratnya cukup satu yaitu udah punya Norwegian National ID Number. Tinggal kita mendatangi sang Petugas, dan akan selesai dalam waktu 5 Menit !!! Itu sudah termasuk kartu kita.
Kemaren, gua pertama kali memanfaatkan kartu ini dengan meminjam CD The Beatles koleksi lagu-lagu 1963-1966 untuk kucopy (hehehe..dasar indonesia). Layanan semuanya oke banget, sang petugas dengan senang hati akan menunjukkan lokasi buku-buku (misalnya koleksi bahasa inggris) saat kita menanyakan ‘How to find a specific kind of book”.
Klik link ini untuk mengetahui hal-hal lain tentang perpustakaan kota trondheim atau dalam norsk-nya : Trondheim Folke Bibliotek http://www.trondheim.kommune.no/folkebiblioteket/english/
Aku Bangga Akan Pramoedya
Saat lihat koleksi-koleksi buku berbahasa inggris, gua menemukan satu-satunya koleksi buku Indonesia di sini, dan itu ..tanpa kaget lagi (karena lumrah) yaitu 4 Buku Pramoedya Ananta Toer apalagi kalau bukan Tetralogi Buru….yeeeah ada perasaan bangga sebagai orang Indonesia melihat buku-buku itu tersusun dalam salah satu koleksi literature bahasa asing. Sayang, selain koleksi pramoedya tidak ada koleksi sastra indonesia lainnya di perpustakaan ini, tapi iseng-iseng nanya kemaren, dengan senang hati mereka bisa mencarikan dari perpustakaan kota lain (oslo misalnya) koleksi indonesia yang kita inginkan, hanya butuh waktu menunggu dan biaya pengiriman sekitar 40-60 kr.
Favorite Movies (update 27 feb 2008)
Setelah beberapa kali meminjam dvd, akhirnya dari sekian banyak film yang gua tonton baru menghasilkan sedikit film yang layak rekomendasi :
- Mitt Afrika (Out Of Africa), 1985.
Disutradarai director jaminan mutu Sydney Pollack, dan dibintangi dengan gemilang oleh Robert Redford dan Meryl Streep. Sebuah film drama romantis yang sama sekali tidak cengeng yang diangkat dari sebuah kisah nyata dari biografi Karen Blixen (tokoh utama yang dimainkan oleh Streep). Alur tutur film yang sempurna, 2.5 jam tapi ga menjemukan sama sekali, play role terhebat selama gua liat film-film Meryl Streep atau Redford selama ini, dan satu hal lain adalah scene afrika yang menawan yang ditangkap dengan cemerlang oleh Pollack. Layak film ini menyabet 7 Oscar waktu itu. - Strike (Stachka), 1924. Film buatan Uni Sovyet tahun 1924 oleh sutradara terkenal USSR, Sergei Eisenstein. Film ini adalah film bisu terdiri dari 6 seri yang bercerita tentang perihal
pemogokan kaum buruh proletar (bolshevik), tidak terlalu propagandis dan dengan sederhana menampilkan realisme pemogokan kaum buruh (terus terang, film ini mengingatkan akan beberapa tahun yang lalu). Diproduksi oleh First State Film Factory dan dimainkan oleh First Workers’ Theater of Proletkult. Film ini menurut berita adalah film tonggak pertama yang merubah wajah film rusia dalam era selanjutnya. - Sophie Scholls Siste Dager (The Final Days), 2005. Akhirnya nemu juga film yang berkisah tentang gerakan White Rose yang terkenal itu.
Sekelompok aktivis student di University of Munich bernama White Rose yang melawan Hitler dan Nazi pada tahun 1943 dan mengajurkan perlawanan secara pasif melalui selebaran-selebaran mereka. Film ini bertutur dari mulai sophie, hans (kakaknya) dan christoph probst yang ditangkap setelah menyebarkan leaflet anti nazi, dan diakhiri dengan hari ketiga mereka dieksekusi mati dengan guillotine. Tokoh Spohie dimainkan dengan apik oleh Julia Jentsch. Film bikinan Jerman 2005 ini meskipun tidak terlalu menonjol memang layak jadi nominasi Oscar untuk Best Foreign Film tahun 2005. - Christ Stopped at Eboli, 1979. Film-film Italia beraroma perang dunia ke II, fasisme, interaksi sosial masyarakatnya selalu menarik, demikian juga film ini.
Judul dari film ini diambil dari dongeng lokal di daerah Eboli Italia, untuk mengungkapkan daerah itu yang saking miskin, dengan tanah yang tandus, terabaikan, sampai-sampai saat Kristus ketika berjalan-jalan ke arah selatan, begitu Dia nyampe di tanah ini, dia berhenti dan ga mau melanjutkan perjalanannya. Cerita film ini berkisar pada seorang tokoh intelektual anti fasis, seorang pelukis sekaligus dokter, Carlo Levi, yang dibuang oleh pemerintah Fasis Mussolini ke daerah terpencil itu. Disinilah dia berinteraksi dengan masyarakat kelas bawah, kaum buruh, sebuah interaksi humanistik yang membuat mereka saling memiliki keterikatan emosional yang dengan cermat, detail dan sederhana digambarkan di film ini. Film tahun 1979 dengan sutradara Fransesco Rossi, yang diangkat dari biografi Carlo Levi ini bagi gua sangat layak tonton. Karakter unik setiap kali kita nonton film Italia, ntah kenapa bagi gua sangat kental terasa, bukan sekedar tutur verbal bahasa, dan gestur mereka ketika berkomunikasi, tapi bahkan sudut pandang kamera untuk meng-capture adegan-adegan itu bagi gua sangat italia banget. O ya.. tambahan, satu hal lagi dari film ini yang sangat penting adalah, bahkan ketika orang diexilekan karena dianggap sebagai musuh negara begitu sangat dihormati bahkan oleh pemerintah setempat, at least penghormatan terhadap keintelektualitasan dari sang tokoh. Di Indonesia.. ?? hehe.. silahkan baca “Nyanyi Sunyi seorang Bisu” untuk perbandingan, dan lebih parahnya lagi bahkan pemerintah dan intelektual pun ikut-ikutan mempelopori membakar buku pengetahuan hanya karena dianggap tidak berpandangan sama dengan yang tergaris di kepala mereka.. memalukan. - Rome, Open City (Roma, citta aperta), 1945. Ini juga film Italia berkisar zaman Perang Dunia Ke II dan gerakan resistante melawan fasisme Italia & Nazi Jerman.
Sebetulnya ceritanya biasa-biasa aja, tentang gerakan perlawanan ada tokoh komunis, pastor, kisah cinta aktivis resistance dengan calon istrinya seorang janda beranak satu. Ada segmen komikal, tragis dsb, tapi yang sangat menarik dari film yang disutradarai Roberto Rosselini ini adalah film ini dibuat tahun 1945, begitu pembebasan Italia dari Jerman dan tumbangnya Fasisme Mussolini terjadi. So, behind the scene (yang gua liat di bagian extra dari versi DVD 2005) dari film ini sangat menarik, dan di beberapa tempat sangat menyayat hati. Penutur di behind the scene ini adalah pemain utama anak kecil yang saat itu berumur 12 th, yang membawa kembali penonton ke tempat-tempat yang menjadi scene adegan-adegan di film ini pada masa sekarang. Film ini adalah masterpiece, khas banget film lama. Jadi teringat, beberapa waktu yang lalu beberapa kawan mengangkat issue tentang penyelamatan film-film lama Indonesia, banyak film indonesia tua yang gua denger-denger juga masterpiece, tapi masyarakat awam seperti gua tentu saja tidak mampu mengaksesnya mengingat tidak ada format media (seperti DVD) film tersebut yang bisa gua beli dan gua tonton. - Sofies Verden, 1999. Bagi yang pernah membaca buku “Dunia Sophie” (versi indonesia) atau dalam versi asli norsknya adalah “Sofies Verden”, film ini mencoba memvisualisasikan cerita yang dipaparkan dalam buku. Seperti halnya kebanyakan film yang diangkat dari buku yang selalu gagal (dilihat dari sudut pandang pembaca buku) dalam mengangkat bentuk cerita buku menjadi bentuk visualisasinya (kecuali LOTR menurut gua), film ini pun termasuk di antaranya. Gua ga mau bilang film ini ga cukup berisi, mungkin lebih tepatnya gua menggambarkan bahwa kegagalan film ini karena hanya segelintir representasi perjalanan filosofi yang tertampilkan dalam film.. dan sungguh-sungguh ini mereduksi begitu kayanya paparan cerita historis filosofi dalam buku Dunia Sophie. Memang tentunya akan sangat pusing merumuskan detail yang begitu banyak dalam alur film yang terbatasi waktu. Tapi kalau diliat secara general, film ini menyenangkan, pemeran Sofie (Silje Storstein) begitu natural menampilkan anak norway 15 tahun dalam melihat filosofi, cakep (secara fisik), dengan ibunya yang lucu dan sedikit ‘tolil’.
Cerita di dalam film ini berkisar tentang tokoh Sofie yang menemukan pertemanan dengan kawan filosofinya Alberto Knox yang memiliki misi untuk membawa Sofie dalam sebuah perjalanan sejarah filosofi.. dan misi itu sendiri diakibatkan oleh cerita yang disusun oleh seorang major (Major Albert Knag) untuk anaknya (Hilde Møller Knag) dan berujung pada kesadaran Sofie & Alberto bahwa mereka hanyalah tokoh fiksi dari sebuah cerita. Cerita film ini sendiri menurut gua pada dasarnya adalah sebuah cerita filosofis juga, yang hendak mengupas eksistensialisme melalui tokoh Sofie & Alberto sebagai makluk rekaan yang ingin berada dalam realitas nyata (..apakah nyata itu ?). Katanya ada versi seri yang ditayangkan di televisi RNK tahun 2000, jadi pengen liat, mungkin lebih cocok cerita ini dalam bentuk film seri. - Hidden Agenda, 1990. Ga ada pemain yang cukup gua kenal di film ini, dari sisi tema besarnya juga ga berbeda dari banyak cerita tentang konspirasi politik di novel atau film lainnya. Tapi, yang bikin spesial kenapa film ini gua taruh di list layak tonton adalah karena penggambaran yang cukup natural bagaimana konflik Inggris – IRA di belfast di munculkan. Bagaimana brutalitas operasi-operasi rahasia inggris, liku-liku aktivitas inteligen dalam menelikung berita, membuat cerita palsu, manipulasi & dsb. Dan yang paling natural adalah ending dari film ini, lebih ke pendekatan ending cerita biografi/historis daripada ending style holywood.
Cerita drama ini dimulai dengan terbunuhnya seorang aktivis hak asasi dari amerika yang sedang melakukan penelitian mengenai bagaimana kekejaman Inggris dalam menangani konflik di Irlandia Utara. Akibat kematian ini, ditunjuk lah seorang inspektur polisi oleh pemerintah untuk melakukan investigasi tentang pembunuhan itu. Bersama dengan seorang kawan aktivis yang mati tadi, inspektur polisi itu melakukan investigasi dan berujung pada sebuah kenyataan adanya konspirasi besar kubu konservatif inggris untuk melemahkan partai buruh dengan memanfaatkan issue IRA ini. Dan cerita diakhiri dengan ending yang sangat realistis. Menurut gua film ini ga kalah dengan In the Name of Father.





