Melihat postingan anak2 stema sekarang tentang bagaimana memaknai kegiatan teater itu, bisa aku simpulkan dalam beberapa hal :
1. Konsep ber-Teater yang telah bergeser dari versi jamanku dengan sekarang. Yang masih kuingat.. Teater merupakan proses panjang..harus tekun dan kuat, jiwa kita harus menjadi jiwa pengabdi..bahkan seringkali tidak bisa jadi selingan. Dulu, ini bukan hobby..ini sebuah pekerjaan..yang dibayar dengan rasa yang tidak bisa dimengerti..puas engga..ga puas juga ngrasa lega. Oleh karena seperti itu.. aktivitas ini membutuhkan rumah..dimana pelaku-pelakunya bisa berinteraksi..interaksi dalam kehidupan yang wajar dan bukan hanya di proses latihan atau pementasan. Justru proses di luar 2 model baku dalam pementasan drama tadi yang tanpa disadari memberikan kekhasan proses teater itu sendiri. Kita menjadi mengenal manusia itu.. baik dalam drama nyata maupun artificial panggung. Hal ini yang telah tereduksi menurutku,..stema tidak memiliki rumah dan keluarga lagi..jadilah dia institusi mati..punya nama saja..tanpa ruh.. karena ketika dia dipanggil (bagaikan nama kita saat dipanggil orang).. yang menengok ke arah siapa yang memanggil bukanlah jiwa-jiwa pengisinya melainkan bangunannya saja. Mungkin hal ini menjadi wajar bagi zaman sekarang ini.. atmosfer yang menaunginya pun sudah bergeser pula..belum lagi manusia-manusia di lingkungan sekitarnya saat ini.
2.Tetapi kubilang tidak boleh menjadi pembenaran proses dan bentuk manifestasi teaternya harus menurun baik dari pola, bentuk, kualitas dan kuantitas. Teater boleh di-engineering-kan, mereduksi habis2an dukungan sosial proses teater “convetional way” model aku dulu pun sah-sah saja,.. yang penting konsisten..Jika memang mau direduksi, pilihlah konsep teater itu sebagai sebuah mata kuliah..ada kuliah, kredit,exercise,hingga ujiannya..dan apa yang akan anda peroleh..ilmu pengetahuan dalam hal ber-Teater..supaya konsisten..carilah dosen yang kompeten, ruang yang layak, fasilitas laboratorium yang memadai dan kurikulum yang baik… dan di Bandung..tersedialah semua itu..tinggal stema sebagai institusi pembelajaran pengetahuan ber-Teater tadi mau tidak untuk menjalankannya.
Ntah kenapa 2 hal ini tiba-tiba muncul setelah aku di norway.. mungkin karena tawaran latihan yang ditolak itu membekas di hatiku (dan yang jelas karena kurang kerjaan juga kali..hehe)






Pergeseran itu sebenarnya sudah terasa jauh lama sebelum saat ini. Justru menurut-ku stema terlambat di-engineeringkan. Maaf bila saya salah disini, mohon koreksinya. Menurut-ku stema “just go with the flow”, if the water clean and many potential fish in it, it becomes a good river. When the flood comes and makes the river dirty and the fish are gone or die, then theres no life in the river. Instead of making a dam, a filter or a fish pond, or whatever, when I was there, I just go with the flow. Tidak ada artinya suatu institusi itu hebat kalau karena ada orang hebat disana, suatu institusi harus hebat karena sistemnya dan tidak peduli siapa di dalamnya.
Tulisan ini mungkin lebih untuk mengkoreksi diri saya.
lulu
IMPOSSIBLE IS NOTHING