Natal ini adalah natal pertama di luar Indonesia, dengan suasana fisik yang jauh berbeda, perasaan, perenungan dan berbagai kejadian tak disangka yang sebaiknya membuat kita (gua) mengambilnya sebagai pelajaran.
Natal di Trondheim
Begitu musim ujian berakhir, hari demi hari Trondheim semakin sepi. Ada kawan nge-joke, “Trondheim itu benar-benar kota pelajar, isinya 50% student dan sisanya adalah pasangannya”. Jadi, menjelang natal, suasana benar-benar sepi. Bus Team Trafikk No 5 Dragvoll-Buenget, yang biasanya penuh dan berjejal penumpang tiba-tiba menjadi lengang. Hari ini, 24 Des, bahkan tadi hanya 3 orang maksimum yang ada di dalam bus selama perjalanan gua dari BuggesVeg ke Munkvoll.
Natal adalah peristiwa budaya kalo di Trondheim, peristiwa budaya sekuler dimana orang merayakannya bukan lagi karena motivasi agama, dengan ikon kuat yang gua tangkap adalah Pohon Natal dan asesorisnya dan bingkisan. Orang-orang mencari dan membeli pohon cemara yang dijual di Torg, aku sendiri cukup memasang mistletoe kecil manis yang gua beli dari nille (nama sebuah toko pernak-pernik) seharga 34 kr. Memasangnya di depan pintu masuk hybell-ku, dan memberi suasana bahwa gua sedang merayakan moment tahunan ini.
Sangat jelas, Natal di trondheim adalah momentum keluarga yang terlalu penting untuk dilewatkan. Suasana yang sepi, karena setiap orang memilih bersama keluarganya pada saat itu, entah hanya untuk berbincang sambil membuat kue kering jahe, memasang hiasan di pohon Natal, menyiapkan bingkisan, membungkusnya dan menaruhnya di bawah Pohon Natal untuk dibuka malam ini atau besok pagi-pagi bersama-sama. Itulah yang gua lihat di keluarga land lord-ku, Prof Bjorn Angelsen.
Bahkan hari ini, ketika gua berkunjung ke teman yang sudah lama tinggal disini bersama anak-anaknya, meski mereka bukan Kristen, mereka pun cukup sibuk untuk mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal, atau Jule dalam bahasa norsk. Jelasnya, kebersamaan di dalam keluarga adalah tema sentral dari moment budaya ini di trondheim.
Selain makna kebersamaan, yang diwakili dalam seluruh bentuk aktivitas berkaitan dengan Jule di trondheim, tak ada makna lain yang gua tangkap. 
Disini gua ga merasakan konsumerisme Natal, sebagaimana dalam persepsi gua sebelumnya tentang Natal di manapun di bagian dunia ini, mungkin itu ada di Amerika dan terutama di Indonesia. Mungkin juga, konteks konsumerisme menjadi kurang tepat karena gua ber-Natal-an di norway, negara dengan GDP dan tingkat kualitas kenyamanan hidup yang tinggi. Mungkin, suatu saat ketika gua kembali ber Natalan di Indonesia, … akan terhenyak dengan ironisme Natal di tempat seperti di sana.
Ide kebersamaan dalam Natal ini bagi gua sangat indah, mungkin dari sisi ini menurutku tak berbeda dengan momen Lebaran, hanya berbeda ritual dan bentuk ekspresi kebersamaannya saja. Keluarga adalah lingkungan terkecil dan ter’realistis’ untuk berbagi perhatian, memberi dukungan, melatih penghargaan atas manusia lain dsb. Sungguh, saat ini gua ingin bersama orang-orang yang gua kasihi.
Untung, Hans mengundang gua makan malam Natal di tempatnya dengan menu biasa : telor cabe, daging, sayur brokoli, wortel dan kacang polong, dan minuman coklat panas.
Natal dan Maknanya
Di gereja katolik, mereka punya tema perayaan Natal di gereja yang berubah-ubah setiap tahun, berlaku sama dalam tema besar untuk semua gereja katolik sedunia, berbeda dalam detail sesuai konteks aktual waktu dan ruang dimana gereja itu berada. Tahun ini, mereka bertema “Jangan Takut, Aku Menyertaimu”. Konteks besar ini mungkin sebagai refleksi atas perubahan dinamik sosial dunia yang justru makin memberikan ketakutan dan kekhawatiran daripada sebuah kemajuan bagi dunia yang aman dan nyaman. Dan gua yakin, kondisi ini akan terus semakin begitu jika tidak diperjuangkan. Gua masih percaya dengan harapan, sebagaimana pohon Natal sendiri lahir sebagai sebuah tradisi daerah Eropa Dingin yang melambangkan harapan dan kenyataan bahkan musim yang paling dinginpun tak mampu merontokkan daun-daun pohon cemara. Well, kalo di Indonesia mungkin hiasan pohon Natal (yang di pajang di mall-mall) paling jauh hanya jadi estetika yang menutupi daun pohonnya sendiri, dan mengiris lepas makna harapan di dalamnya.
Tetapi hal yang menjadi lebih penting dan personal adalah makna Natal bagi diriku sendiri dan orang-orang yang sangat dekat dengan gua. Setiap natal, selalu gua bertanya ke dalam diri sendiri
-
- “Sejauh apa gua mampu berarti bagi orang-orang ?”
- “Tahun ini apa yang sudah gua lakukan untuk itu ?”
- “Dan selanjutnya apa yang bisa gua lakukan ?”
…… dan jawaban yang gua temukan seringkali beragam, dan tentu saja ikut menggoreskan arah bagi perkembangan diri gua selanjutnya, dan semoga menyemangati hidup dan aktivitas gua.
Natal kali ini begitu penting karena ditandai oleh kejadian yang menghasilkan satu kesimpulan permenungan : “Arah dan cita-cita gua. Gua ingin menjadi orang baik dan adil yang biasa saja. Gua ga ingin tersilaukan dengan tawaran menjadi orang tersohor nantinya, bergelimang dengan popularitas yang dikemas dengan kecerdasan dan latar pendidikan yang tinggi, dan bersinggung-singgungan dengan politik main stream, dan menjadi tampil “hebat” dalam urusan menyelesaikan problem-problem bangsa. Gua hanya ingin bisa merayakan Natal dalam kebersamaan yang sederhana dengan keluarga plural dan universal yang ingin gua bentuk.”
Natal dan Konsumerisme (konteks Indonesia)
Memang, bahaya ini sudah gua sadari lama … tapi titik tolak yang paling gua ingat adalah ketika konsep mall, dan supermarket menjadi jamur yang menyebar tak terkendali, tanpa restriksi dan kendali dari institusi (r: pejabat) negara di banyak kota-kota besar di Indonesia. Dan saat itulah menurut gua, Mall dan semacamnya menjadi insitusi pendidikan yang paling efektif (selain TV) bagi masyarakat Indonesia : di sana mereka bermimpi, meletakkan cita-citanya, membayar biaya sekolah, memperoleh gelar dan paradigma pencerahan baru dimana kurikulumnya terus diperbarui seiring keluarnya katalog produk yang baru.
dan Natal hanyalah sebuah moment yang pantas untuk membuka pendaftaran murid baru atau murid lama yang ingin mengulang kelas, memperbaiki nilai ujian atau naik kelas.
dan Gua dengan senang hati (sekaligus sedih sebetulnya) mencibir perilaku kebijakan Indonesia dan sebagian masyarakatnya yang lebih senang mengatur urusan pendirian rumah ibadah daripada keberadaan institusi-institusi garda terdepan budaya konsumerisme itu.
Tanpa ada Perubahan dalam Budaya Masyarakat kita, menjadi masyarakat yang produktif daripada konsumtif, masyarakat rasional yang bebas dan cerdas menggagas dan mencipta daripada meniru dan memakai belaka, selamanya Natal semakin tereduksi … bermakna sunyi datar belaka.. dan daun pohon harapan makin gugur oleh silau-gemilau asesorisnya.
Natal dan membesarkan Anak
Dan ntah setan jenis apa yang bergentayangan di event besar negara-negara dunia dan dalam suasana Natal seperti ini. Gua mendengar berita bahwa keluarga kawan gua hancur, karena si suami yang juga kawan akrabku yang sudah gua kenal sejak lampau berselingkuh dengan seorang kawan yang gua tahu sejak lampau juga.
menyisakan kesedihan seorang istri dan kebingungan seorang anak, seorang perempuan yang banyak orang tahu betul bagaimana perjuangan dia dalam mempertahankan dan membesarkan anak itu, suka duka di dalamnya, hal-hal kecil yang membanggakan dan mengharukan yang mereka lalui saat mereka harus tumbuh sendiri karena bapaknya ‘hilang’..
Seorang Bapak yang ‘menakjubkan’ di mata banyak orang, mengimpresi banyak anak-anak muda dengan kilatan kecerdasan di matanya dan ‘keajaiban’nya dalam forum-forum internasional…….. dan berakhir di mata dan hatiku sebagai orang yang ‘tak paham dan tidak bisa berempati dengan perjuangan orang terdekatnya’ sementara dia banyak bicara tentang ilmu pengetahuan dan daya upaya perjuangan manusia dalam konteks persoalan-persoalan aktual global. Semua omongannya dan artikel-artikelnya seketika menjadi bualan dan omong kosong. Seperti kata Pak Vincent “…….semua tulisan-tulisan dalam forum-forum keindonesiaan dari mereka hanyalah omong kosong tanpa kontribusi yang signifikan bagi bangsanya sendiri.. selain hanya jadi ajang sensasi…….” Dan gua kehilangan kepercayaan.
Di Natal ini, gua memutuskan untuk menjadi ayah asuh anak itu… dan berjanji membesarkannya sebagai anakku sepenuhnya, karena gua ragu secara absolut atas komitmen bapaknya. Sejak pertama dan seiring waktu anak itu tumbuh, hati gua terpaut oleh gaya anak ini menari bali dengan malu-malu (bahkan gua yang mengantar untuk mencari rumah guru tari balinya), kecerdasan dan kenakalannya yang luar biasa membuat gua rindu. Gua ingin mencintainya, memberi perhatian, dan sebisa gua bisa untuk menjadi sosok laki-laki baginya … dan gua ingin anak ini tak tumbuh timpang dan mensia-siakan semua potensi yang bisa dia lakukan semakin dia tumbuh jadi dewasa.
Yang gua rasakan cuma kesedihan.. gua sama sekali tak mampu memahami argumentasi tak rasional dari kawanku ini, demikian juga pemaksaan maaf dan pembenaran dari pasangan selingkuhnya…… sebagaimana artikel-artikel itu, cuma bualan, sensasi dan tak menyelesaikan masalah.
(… dan aku teringat bagian dari buku Pram saat dia bertutur tentang perasaannya kala Bapaknya membawa ibu baru baginya..)
Gua memaki seharian, hari aku mendengar kabar itu. Gua hanya ingin memaki…… dan inilah moment memaki pertama dalam Natal selama hidupku saat ini.
Natal sederhana
Kami di trondheim, sekelompok kecil orang-orang akan berpesta natal. Berkumpul bersama, berdoa dan ditutup dengan sekedar makan malam hari Kamis, 27 des ini. Gua akan memainkan gitarku, mengiringi orang-orang bernyanyi, terutama nyanyian dua anak kecil dio-tasya yang begitu bersemangat (mengingatkan gua akan adit di masa kecil).
Semoga hati gua tenang dan damai, penuh rasa maaf dan kasih.






sudahlah… jangan sedih, tahun depan ke vatican.. tar gw kasi tips2 menyelinap masuk tanpa undangan di antara ribuan orang yg ngantre di depan basilika s. pietro, lengkap dengan tips2 jalan2 n makan enak… =)
dah ah,, ngomong taun depan jd inget masa depan, bikin sedih… hahaha =) anyway,,, merry christmas!! buon natale!!