Secara umum orang-orang tau fotografi pada posisi sebagai obyek yang difoto. Seperti halnya ingatan gua pertama kali ketika mulai benar-benar paham bahwa gua harus berpakaian rapih, bergaya tertentu (eksyen, kalau orang jawa bilang), menghadap ke kamera dan menahan mata supaya ga berkedip ketika si tukang foto udah berteriak menyebutkan “TIGA !…”.
Inilah interaksi gua secara sadar untuk pertama kali dengan kegiatan bernama fotografi. Dan butuh bertahun-tahun bagi gua untuk terangsang berpikir sebagai gua di posisi si tukang foto.. at least.. baru pada saat gua di SMP. Selama itu sebelumnya yang terpikir cuma suatu tombol di kamera yang ditekan oleh tukang foto, pulang, menunggu satu minggu untuk ngambil negatif film dan hasil cetaknya. Jadi, elemen fotografi yang gua ketahui saat itu adalah Manusia, Kamera dengan Film dan Cuci-Cetak.
Potret-memotret 10 tahun lebih yang lalu adalah kegiatan eksklusif, butuh biaya yang ga sedikit untuk film yang menghasilkan 36 gambar untuk 1 roll, belum termasuk ongkos cetaknya. Satu peristiwa pernikahan adat jawa kakak terbesarku saja dulu kuhitung-hitung hanya dihasilkan oleh 4 roll film berisi 36 negatif, 1 roll untuk midodareni, 1 roll untuk siraman, 2 roll untuk pesta pernikahannya. Karena keterbatasan ini, memilih fotografer (–baca: tukang foto–) yang handal adalah suatu yang pasti.
Mungkin juga karena keterbatasan inilah kenapa ketika hendak berfoto semua orang cenderung harus bergaya, apalagi kalau foto studio dengan layar-layar background yang kaku, seringkali menjadikan foto terlihat ga natural dan lebih kuat terkesan artificial, walau tak dipungkiri dalam black-white foto dengan style seperti ini sangat kuat dalam mencirikan kelampauan/kekunoan. Keterbatasan ini juga menyebabkan foto jenis candid, dimana obyek difoto secara ‘diam-diam’ tanpa menyadari dirinya sebagai obyek dan sang fotografer memiliki kebebasan menyusun cerita melalui media foto-foto yang dihasilkan, baru marak di akhir dekade 90-an, dimana style foto jurnalisme diadopsi untuk kepentingan peristiwa dan acara personal. Dan kenapa di penghujung 90-an konsep ini laris dan mulai berkembang ? Jawabannya satu karena terjadi revolusi budaya fotografi sejak diperkenalkannya teknologi yang disebut kamera digital. Dan saat itulah elemen yang kukenal dalam fotografi bergeser menjadi Manusia, Kamera Digital, dan Komputer dengan Printer.
Pergeseran konsep teknologi ini terjadi dengan fundamental yang cukup sederhana, mengubah teknik penangkapan cahaya dari yang secara kimiawi menjadi digital,.. negatif film menjadi chip sensor elektronik. Tapi efeknya sangat besar, secara kasat mata sebagai contoh adalah style dalam fotografi, kapasitas produksi fotografi, berbagai jenis kamera dengan biaya operasional yang lebih rendah dan sebagainya. Bagi gua, inilah satu titik dimana gua mulai sangat tertarik untuk memposisikan diri sebagai tukang foto dan bukan obyek foto (alasan yang lebih besar sih karena gua ga cukup pe-dhe untuk difoto
). Keingintahuan tentang bagaimana detail dari setiap elemen fotografi (di dalam pengertian gua itu) mulai menarik dan ‘menjerat’ gua untuk memulai eksplorasi baru di berkegiatan fotografi amatiran.
Binatang apa Kamera itu ?
Sedikit latar belakang, kenapa gua butuh tau tentang kamera : ibarat manusia dan sepeda, hanya butuh kesesuain antara keseimbangan tubuh dan teknik genjot (yang diperoleh dari latihan) setiap orang bisa menaiki dan menjalankan sepeda. Tapi untuk bisa mengendarai sepeda, orang harus tahu jika naik sepeda dengan kecepatan tinggi dan ingin menghentikannya ga mungkin dengan menekan rem depan saja (kecuali mau akrobatik). Hal yang sama dengan kamera, setiap orang bisa menekan tombolnya tapi untuk menghasilkan gambar yang diinginkan .. “ga cukup dengan menekan rem depan saja”. Untung di dunia digital saat ini, berbagai program automatis tersedia, dan di dunia foto digital kegatahuan ga menyebabkan kecelakaan bagaikan di dunia naik sepeda, dan di dunia foto digital ongkos kesalahan dapat dieliminasi jika dibandingkan dengan zaman foto analog yang memakai negatif film.
Trus, apa pertanyaan : “Perlukah tau tentang apa itu kamera” masih relevan ? Menurut gua jawabannya adalah YA, YES, YUP, YOI dll, pada saat gua ingin kamera bekerja untuk gua agar menghasilkan gambar-gambar yang gua inginkan. Seperti udah disinggung di Bahan I : Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya. Bagaimana cahaya ditangkap di sebuah kamera ? Lihat skema berikut ini
(Courtesy of Bush, David D; Mastering Digital Photography, 2003)
Cahaya masuk ke kamera lewat lensa (obyek dapat diliat terlebih dahulu lewat viewfinder), difokuskan agar diterima oleh sensor cahaya yang memilah-milah cahaya berdasarkan komponennya, informasi mengenai konsentrasi komponen cahaya ini diterjemahkan dan diubah menjadi informasi digital untuk kemudian disimpan dalam media penyimpan.
Selanjutnya, mari kita liat dua elemen utama proses penangkapan cahaya itu hingga menghasilkan gambar
Lensa
Cahaya masuk ke dalam kamera melalui bagian yang disebut lensa. Cahaya dipastikan hanya boleh melalui bagian lensa ini yang berupa lubang (berbentuk lingkaran). Lubang ini ibarat jendela kamera ke dunia luar, dan jendela ini punya ukuran lubang tertentu, persis saat kita membelalakkan mata atau menyipitkan mata. Kamera sendiri juga memiliki komponen untuk mengatur kecepatan si lubang ini membuka pas kita perintahkan. Dengan mengatur dua properties ini, intensitas cahaya yang masuk ke kamera diatur.
Lensa juga berfungsi untuk mengatur supaya cahaya secara tajam difokuskan. Apa sih sebenarnya fokus ? Secara sederhana, fokus adalah saat kita bisa melihat obyek pada visualisasi yang terjelasnya, kebalikan dengan yang disebut blur. Kalau menyangkut cara kerja, fokus adalah saat cahaya yang dilewatkan tepat jatuh ke bidang sensor kamera, seperti setelah cahaya lewat kornea mata kita dan tepat jatuh di retina maka kita bisa fokus melihat suatu obyek. Tentang konsep gimana cahaya dari obyek diproyeksikan oleh lensa dan hitungan-hitungannya, gua udah lupa.. silahkan buka lagi pelajaran dasar di SMP, SMA dan orang-orang Teknik Fisika yang bermain tentang optik (Boss Hardy kali nih..lebih jago).
Lensa juga penanda paling mendasar untuk membedakan jenis kamera digital point & shoot dengan kamera digital SLR. Jenis kamera pertama memiliki lensa dengan ukuran yang sudah tetap ( dan ga bisa diubah-ubah, kecuali beli kamera baru yang berbeda jenis lensa), jadi lebih simple karena pengguna ga perlu lagi mengatur fokus dengan mengatur posisi elemen lensa ini, posisi fokus lensa sudah fix. Sebaliknya, di kamera DSLR, berbagai jenis lensa dapat dipasang (asal mountingnya bersesuaian, biasanya dedicated sesuai merk), dan lebih diperlukan upaya untuk mengatur posisi lensa untuk memperoleh fokus yang diinginkan (walaupun ada fasilitas auto focus juga).
Besaran yang membedakan (jarak fokus) suatu lensa disebut dengan Focal Length dengan satuan mm (mili meter). Berdasarkan focal length, lensa dapat dibedakan menjadi dua grup besar, yakni lensa Prime dan Lenza Zoom, bedanya yang pertama ini punya focal length yang fix ga berubah-ubah, sedangkan yang kedua punya focal length berupa rentang. Masing-masing punya kelemahan dan keunggulan :
- Kalo pake Lensa Prime : Kualitas hasil lebih bagus (karena tipe ini dibuat khusus untuk focal length tertentu), lebih tajam dan respon yang cepat. Tapi kurang sesuai kalo kita menghadapi situasi memotret obyek pada berbagai rentang focal length.
- Kalo pake Lensa Zoom : Praktis, cukup satu lensa untuk berbagai keperluan focal length (ga berat bawanya). Kelemahan, lebih lamban dalam respon karena punya minimum aperture yang lebih rendah (dibanding jenis prime), jadi lebih susah dalam ngatur focus dan kestabilan (terutama untuk penderita tremor kaya gua)
Jenis-jenis focal length yang gua ketahui :
- Standard : 50mm. Kalau beli kamera SLR sepaket pasti dikasih.Cocok untuk keperluan general (mirip sama sudut/angle mata manusia).
- Small Zoom : 35-70mm (2x zoom), 28-85mm (3x zoom) atau 24-105mm (4x zoom), dll. Kamera digital pocket biasanya pake jenis yang ini dengan rentang umumnya 35-100mm (tapi ini berubah dengan cepat, dan semakin hebat fitur lensanya).
- Wide Angle : < 50mm. Cocok untuk memotret panorama dan landscape outdoor lainnya, memotret orang banyak yang berjejer-jejer (foto bersama 40 orang misalnya) dan situasi dimana perspektif yang kuat ingin dihasilkan, intinya untuk dapat menangkap obyek yang lebih lebar. Pada beberapa aplikasi kadang terjadi distorsi perspektif.
- Fisheye : 7- 16mm. Lensa ini kaya mata ikan yang mampu menghasilkan pandangan 180°.
- Super Wideangle : <24mm. Seperti lensa wide angle tapi lebih lebar lagi, Cuma ga selebar lensa fish eye. Biasanya buat foto gedung, rumah real estate (biar tampak lebih gede dari aslinya)
- Medium Telephoto : 85-135mm. Cocok untuk menghasilkan potret, karena bisa mengisolasi obyek wajah (misalnya) dari backgroundnya, dan ga distortif (hasilnya lebih datar dan natural). Umumnya ini yang dipake buat candid.
- Long Telephoto : > 135mm. Umum dipake sama wartawan olahraga atau dokumenter, intinya untuk menangkap aksi (misalnya saat Cak Roni menggiring bola di lapangan Nardo) secara dekat tetapi tukang fotonya tidak memungkinkan dekat secara fisik.
- Super Telephoto : >300mm. Super tele lah pokoknya, bisa untuk ngambil lebih jauh lagi. Yang jelas berat, dan butuh tripod khusus untuk lensanya (atau tangan lu cukup sering fitness dan angkat barbel 40 kg). Ini jenis kamera yang wajib dimiliki paparazzi.
- Macro : 35 mm. Jenis lensa ini bisa untuk dapat fokus secara dekat dari obyek dengan image ratio 1:1, contoh : obyek sebesar 10mm akan dihasilakn sebesar 10mm juga. Intinya untuk memperoleh gambar obyek yang besar dengan jarak dekat, misal ulat yang lagi makan daun.
- Jenis-jenis lain yang lebih spesifik dan aneh-aneh.
Sensor
Setelah cahaya dilewatkan lensa, lalu cahaya diterima oleh sensor elektronik sensitif cahaya terbuat dari bahan semi konduktor yang berbentuk kotak-kotak, kaya solar cell (sepertinya mah). Foton dari cahaya yang kena ke setiap cel sensor menyebabkan cel ini menghasilkan elektron, jadi kalo semakin banyak foton yang diterima (intensitas cahaya makin besar) makin banyak elektron yang dihasilkan dan akibatnya makin terang lah gambar hasil nantinya.
Kesensitifitasan dari sensor ini yang kita kenal dengan ISO, yang berkorelasi dengan jumlah minimum foton yang diperlukan sensor untuk menangkap gambar. Semakin besar ISO yang dipilih berarti menurunkan setting minimum foton untuk ukuran pixel tertentu, akibatnya pada ISO yang tinggi gampang terjadi noise (berupa bintik-bintik di gambar) karena sensor merekam juga gangguan-gangguan (yang bukan informasi gambar) lain.
Di dalam kamera digital ada dua jenis tipe sensor yang umum satu disebut CMOS, complementary metal oxide semiconductor, (teknologi lebih tua, tapi terus berkembangsampai sekarang) , satunya lagi adalah CCD, charge coupled device. Beda dari kedua jenis ini adalah CMOS kurang sensitif terhadap cahaya dan mudah kena noise, tetapi butuh daya yang lebih rendah dan lebih murah dibanding CCD. Sensor ini juga dilengkapi komponen untuk mengkonversi signal analog menjadi informasi digital untuk disimpan.
Nah selesailah mekanisme kerja dari kamera, elemen-elemen yang ada di dalam kamera digital pada intinya mendukung proses kerja dua elemen utama dari Kamera Digital.
Format Gambar
Begitu dihasilkan signal digital, maka selanjutnya diperlukan media penyimpan berupa memory card. Yang umum dijumpai adalah CF (compact flash), SD (secure digital) atau Mini/Micro SD card, dan MMC (Multi Media Card). Tidak ada perbedaan yang cukup berarti diantara tipe-tipe media penyimpan ini selain ukuran fisiknya.
Yang lebih penting adalah memahami format gambar yang ingin disimpan dari kamera digital. Ada 3 jenis format gambar yang umum dijumpai dalam seting kamera digital, yaitu JPEG, RAW dan TIFF. Ketiganya mensupport tipe pewarnaan CMYK (karakterisasi matematis warna gambar dilakukan berbasis warna Cyan Magenta Yellow Black, jenis ini hanya digunakan umumnya dalam design grafik), RGB (karakterisasi matematis terhadap warna gambar dilakukan berbasis warna Red Green Blue, umum dijumpai) dan LAB/CIELAB (berbeda dengan 2 tipe sebelumnya, karakterisasi warna ini didasarkan atas model persepsi human vision contrast melalui korelasi spectrum warna, bahasan terlalu canggih kurang ngerti juga dalemnya
)
Apa yang membedakan satu sama lain ? Pada intinya perbedaan berbagai jenis format file tersebut didasarkan atas pertimbangan kapasitas penyimpanan dan informasi gambar yang hendak disimpan.
File bertipe JPEG paling efisien dalam hal space, dan dapat disimpan dalam berbagai level kualitas tergantung dari besar kompresi yang diinginkan. Semakin dikompres semakin banyak informasi original dari gambar akan hilang, akan tetapi, semakin kecil ukuran file yang dihasilkan. File bertipe TIFF memiliki keunggulan meskipun gambar dikompres tidak ada informasi gambar yang dikorbankan, tetapi tentu saja membutuhkan space yang lebih besar jika dibanding JPEG. Bagaimanapun, perlu diinget baik JPEG maupun TIFF, keduanya adalah file gambar hasil dari perangkat lunak dalam kamera, oleh karena itu seoriginal apapun TIFF dan JPEG keduanya tidak benar-benar mengandung informasi asli dari gambar.
File tipe ketiga yaitu RAW inilah yang bekerja seperti negatif film, di mana di dalamnya seluruh informasi gambar terjaga dengan baik dalam channel 12-bit atau 16-bit (tergantung kamera), tanpa kompresi, tanpa manipulasi setting software dalam kamera. Hanya satu kelemahan, diperlukan software khusus (misal adobe photoshop) untuk membaca format ini. Pertimbangan praktis yang dapat dipakai sebagai acuan adalah, untuk sebagian besar pengguna, secara general, format JPEG atau TIFF sudah cukup baik, untuk kebutuhan spesifik (dan ditunjang media penyimpan yang besar) seperti keperluan editing dll, format RAW adalah pilihan yang lebih tepat.
Referensi :
- Bush, David D; Mastering Digital Photography; Muska and Lipman, 2003
- Hartley, Danny; Photography – The Lens; Picture Correct, 2007
SAMPAI JUMPA LAGI !!!
(KAMERA JANGAN DISIMPAN AJA, BIASAKAN JEPRAT JEPRET, TOH BISA DIHAPUS KALO GA BAGUS …. DARIPADA KARATAN
)
-gandoel-






doel..ttg nyimpe d format raw..
d kamera jeprat-jepret urg gak ada kan ya?
apa klo (d kamera eluh) kita setting yg paling besar kualitasnya otomatis raw..atau ada pilihannya sendiri?
thx
Ga semua kamera pocket support RAW, beberapa aja yang support untuk Canon antara lain Power Shot seri G/S/A, Panasonic Lumix seri DMC FZ/LX/L juga support, Nikon dan Kodak juga beberapa support, intinya buat kamera pocket denga fitur yang semi-pro. Buat Xlim engga support.
Semua kamera DSLR tentu saja support, karena ini default awal sebetulnya. Untuk milih raw harus ngubah setting format file di Menu (jadi ga bisa dengan milih kualitas paling tinggi aja). Tapi sebagai info, gambar dalam format RAW = dalam JPEG channel 24bit (kalau ga salah).
Happy Hunting dengan kamera mungil !!